Prihandoko

Prihandoko. Pria, 40, Bekasi.
Petugas DLLAJ.
—
Angkutan kota adalah kultur. Motor adalah kultur. Mobil Alphard pun adalah kultur. Semua seharusnya taat pada lampu merah dan rambu lalu lintas, dan tidak kongkalingkong dengan aparat keamanan jalanan waktu ditilang. Sebenarnya Prihandoko bukan aparat keamanan, tapi aparat ketertiban. Dia tidak semestinya berada bersama lampu merah. Fungsi mereka terlalu sama untuk berada pada satu luas pandang. Dia berada di sana karena lampu merah tidak cukup memaksa untuk ditaati. Lampu merah adalah benda diam dan Prihandoko adalah kultur.
“Go ahead, go ahead,” begitu katanya, seperti papan iklan rokok besar melintang yang berada pada satu luas pandang dengannya. Kata-kata mereka terlalu sama untuk fungsi yang berbeda. Prihandoko menyuruh angkutan umum untuk go ahead agar jalan tidak macet. Papan iklan rokok besar melintang menyuruh masyarakat untuk go ahead merokok. Prihandoko adalah perokok dan papan iklan rokok yang melintang adalah kultur.
Waktu dia pulang, anaknya, Tri*, dan istrinya, Rini*, akan menyambutnya dengan besar hati. Bapak pulang dari menertibkan jalanan. Angkutan kota, motor, bahkan mobil Alphard taat pada sang bapak (seharusnya. semestinya. lebih dari mereka taat kepada lampu merah). “Ayo kita go ahead makan malam,” kata Tri. “Shalat dulu,” kata ibunya.
Mereka lalu shalat berjamaah. Sayur gabus dan tempe mulai mendingin di atas meja, di bawah tudung saji. Sebungkus rokok tetap kering di dalam kantong seragam, menyandang identitas DLLAJ. Buku pekerjaan rumah tergeletak di meja ruang tamu dengan judul, “Ayahku”. Dan segalanya; nasi, sayur gabus, tempe; bahkan buku pekerjaan rumah, adalah kultur.
Prihandoko dan keluarganya adalah kultur.


Superb writings!!
jika menulis adalah kultur dan salah satu kata sifat adalah keren, maka saya menyebut posting ini kultur yang keren!